Menjalani semester 8.
*ga pernah seantusias ini menghadapi semester baru. sindrom abis plo: ga sabar kembali ke dunia nyata, melihat kegiatan menarik selain plo, dan menyadari bahwa plo itu cuma sebesar daun kelor. hahaa..
*ga pernah seantusias ini menghadapi semester baru. sindrom abis plo: ga sabar kembali ke dunia nyata, melihat kegiatan menarik selain plo, dan menyadari bahwa plo itu cuma sebesar daun kelor. hahaa..
Judulnya serius banget yaa. Padahal yang mau diceritain….emang serius banget lahh. Hahaa. Jadi, yah, saya menemukan fakta menarik waktu ga sengaja nonton tivi tadi. Ceritanya *oke bukan ceritanya, tapi faktanya, nyatanya, dan sinonim lainnya* ada satu keluarga yang punya anak autis. Kata dokter *atau siapa deh gw lupa* si anak itu ga bisa disembuhin. Parah banget kalo liat si anak itu. Nangis guling-guling. Teriak-teriak. Ga bisa denger berisik sedikit langsung nangis. Kalo nemuin lingkungan baru nangis teriak2 juga. Cuma mau nonton kartun kereta-keretaan, kalo kartunnya ga ada nangis lagi. Sukanya ngeludahin tivi. Loncat pager. Gelantungan di pohon. *oh maaf yang dua terakhir beda channel kayaknya. hee..* Dan yang paling kasian ya orang tuanya. Kewalahan banget kayaknya. Yang bikin cerita ini jadi seru udah ketebak pasti. Iya, diakhir cerita, si anak akhirnya bisa disembuhin. Dari pertama gw mikir: ini pasti di akhir cerita bisa sembuh. Karena tiga, orang tuanya relain berkorban waktu dan biaya buat ngerawat anaknya, anaknya dimasukin ke semacam tempat rehabilitasi buat penderita autis, sama satu lagi, klo ga sembuh ga akan ditampilin di tivi. Hehe..
Oke. Pendahuluannya cukup sampai disitu yaa. Sekarang back to the topic. Autisme. Apa sih sebenernya autism? Sebentar saya googling dulu. Kalo katanya wikipedia,
Autisme adalah suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat masa balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal. Akibatnya anak tersebut terisolasi dari manusia lain dan masuk dalam dunia repetitive, aktivitas dan minat yang obsesif. (Baron-Cohen, 1993).
Tiga kata kunci, punya dunia sendiri (dalam artian yang sebenernya loh ini). Di tivi tadi intinya si tempat rehab itu menekankan kepada perlunya seseorang, keluarganya, terutama orang tuanya, masuk ke dunia si anak. Melakukan apa yang dia lakukan. Dia guling-guling, ikutan guling-guling. Dia ngeludah, ikutan ngeludah. Sampe si anak realize there’s someone out there yang sama kayak dia. Sebelum mengajak dia masuk ke dunia kita, pertama-tama masuk dulu ke dunianya. Setelah dia sadar ada orang yang mau ngikutin kelakuannya, baru ajak dia untuk mau ngikutin kelakuan kita. Kayak tadi, yang ngena banget di gw adalah bagian kontak mata. Selama ini si anak ga pernah melakukan kontak mata sm orang-orang di sekitarnya. Terus, cara yg trainernya lakuin buat bikin si anak bisa kontak mata kalo lagi berkomunikasi dengan orang lain adalah dengan memintanya untuk melihat matanya pas si anak tadi minta dibacain buku cerita. Pertama anak tadi baru ngeliat mata trainer setelah diminta 5 kali. Kedua 3 kali. Ketiga, dia langsung meminta sambil melihat mata trainernya. Dia belajar, permintaanya akan diturutin kalo dia ngeliat mata orang yang dia minta. Dan hal-hal lainnya.
Saya pernah membaca sebuah artikel, atau mungkin lebih ke opini, dari ibu yang punya anak penderita autisme. Sempet disinggung juga di situ tentang penggunaan kata autis dalam percakapan sehari-hari: aduh mengautis nih gw, autis banget sih lo, dan sebagainya, yang sangat mengganggu ibu tersebut. Setelah melihat program tivi tadi, dan mengingat kembali artikel tersebut, pesan saya: berhati-hatilah dalam menggunakan kata tersebut. *bukan ini poinnya sih, tapi lumayan buat ngingetin diri sendiri*.
Intinya, ada cara penyembuhan yang efektif buat anak dengan autisme. Kemauan dari orang tua untuk bareng2 anaknya ngejalanin usaha penyembuhan, dan keyakinan terhadap kesembuhan si anak itu jadi faktor yang paling penting (dan pertolongan Allah juga pasti). Buat orang-orang yang mengalami pengalaman orang2 tua tadi, insyaAllah anaknya bisa sembuh kayak di tivi tadi, jadi baiiiik banget. Ini based on true story kok, ga kayak reality show indonesia. Hehe..
Saya senang. Konsep pengasuhan anaknya inspiring sekali. Ga cuma buat anak autis aja, tapi juga nyontohin gimana seharusnya orang tua ngasi perhatian dan kasih sayang ke anaknya yang masih kecil. Bagus deh. 5 jempol *pinjem jempol satu dulu yaa..* Hehe.
Masi pengen browsing tentang penyebab autis sih, tapi harus udahan dulu. Udah terbayang2 plo ini saya. Kapan-kapan, mungkin semester depan yang agak longgar, insyaAllah saya mau cari tau..
Beberapa hari ini semangat menulis saya sedang menggebu-gebu (hehe). Rasanya ingin sekali mengosongkan smua yang ada di kepala dan menumpahkannya kesini. Tapi lagi-lagi sifat saya yang terlalu banyak penuh pertimbangan mencegah hal itu terjadi (makin ga jelas).
Demotivated. Saya merasa seperti itu akhir-akhir ini. Ga bener ngerjain tugas, deadliner lebih parah dari biasanya, hidup ga teratur. Dan lain-lain. Kenapa ya? mungkin sudah terlalu jenuh dengan kuliah. Benar-benar alasan yang klise. Sudah sering sekali seperti itu. Jenuh kuliah, merasa berhak mendapat hiburan, pulang ke rumah, pergi nonton, karaoke, beli novel baru, atau makan makanan yang ga biasa dimakan (batu, bantal, dsb). Tapi semuanya itu belum juga bisa memotivasi saya kembali. Saya ingin melakukan hal lain. Yang berbeda. Yang saya suka. Yang bisa bantu saya melupakan masalah-masalah yang ada. Yang bukan sekedar hiburan. Tapi apa ya?
*mungkin blog ini akan penuh curhatan2 ga penting sampai beberapa hari kedepan..
Saya sedang berada di hari-hari yang cukup tenang dibandingkan beberapa hari yang lalu. Tenang ga tenang. Ga ada tugas kuliah heboh dan sejenisnya bukan bikin tenang malah bikin khawatir dan bertanya2 ‘yakin nih ga ada apa2 hari ini. nganggur ga ngapa2in. jadi takut..’ Begitulah. Namanya juga manusia. Dikasi sibuk ngeluh2. Dikasi santai masi protes juga. Aduh. Bersyukur dong tii..
Oke. Inti dari smua basa-basi diatas adalah malam hari yang tenang membuat saya bisa meng-gak jelas seperti sekarang ini. Blogwalking. Baca status fesbuk orang-orang. Yang harus dikerjain (baca: input nilai sm baca bahan TA) malah ga dikerjain. Yaudahlah ya. Bersenang-senang dahulu bersakit-sakit jangan sampe…
Sebenernya tadi saya udah mau masuk ke inti dari tulisan ini. Tapi apa mau dikata beginilah jadinya. Meracau sampai kacau.
Balik lagi ke ke-gakjelas-an saya membaca status semua orang, saya menemukan status menarik dari seorang teman. Statusnya gini: pilih topik TA itu kayak pilih pasangan hidup. pilih yg lo suka. jgn asal ada aja.. (Cempaka, 2009).
Hahaa. Menggelitik sekali yaa *apa sih nih menggelitik*. Saya jadi teringat tentang TA. Sempat dilema beberapa waktu tentang topik apa yg harus saya ambil. Pilihannya ini:
Jadi, kalau diibaratkan milih pasangan hidup, kamu pilih yang mana? yang kamu suka tapi blm ada planning buat ke jenjang berikutnya (kebanyakan liat infotainment bahasanya jadi kaya gini), atau yang ada aja tapi terplanning dengan matang? hahaa…
Ini serius soal TA loh yaa. Yang tentang pasangan hidup sekedar curhat colongan intermezzo saja. Hehe. Mungkin perlu istikharah ya buat nentuin topik TA?
*kenapa judulnya through the rain? pengen aja. soalnya di luar hujan terus ga berenti2..
Saya menemukan quote menarik dari seorang dosen di kuliah kemarin.
…belajar disini bukan untuk siap kerja, tapi supaya siap mempelajari hal-hal baru di luar sana…
Terjawab sudah semua pertanyaan saya tentang kuliah-kuliah dengan beban 10 kali lipat dari sks-nya dan tugas-tugas gila menyebalkan yang selalu saya pertanyakan keterpakaiannya di dunia kerja nanti. Hehe.
Ohh. Suka sekali kuliah kemarin. Dua kuliah yang isinya memotivasi dan mencerahkan sekali. Saya janji tidak akan bolos-bolos lagi..
Saya sedang suka sekali liriknya:
Coba, coba katakan kepadaku bahwa kita sedang berjalan menuju satu alasan. Janganlah kau katakan bila kita memang tak ada tujuan dari apa yang dijalankan.. -Coba katakan, maliq & d’essentials-
Hmhm. Bukan apa-apa kok, tapi jadi inget waktu-waktu kalimat “ga mau ngejalanin sesuatu yang ga punya tujuan” berputar di kepala..
Setelah kasus prita mulyasari yang sempet hot beberapa waktu lalu -sampai sekarang mungkin- dan berbekal sedikit pengalaman (jahhaha) menjelajah blog-blog dan situs-situs lainnya, saya jadi ingin tau tentang UU ITE dan netiket-netiket yang harusnya sudah umum diketahui para peselancar dunia maya.
Googling dengan keywords UU ITE langsung mengarahkan saya pada link download UU ITE. Wahh, pertanda baik kah semua orang akan berhati-hati dalam bertukar informasi? Setelah saya download, ngg, membaca saja sulit, hehe. Aduh rasanya malas sekali membaca pasal demi pasal. Pertanda baik tersebut berubah menjadi pertanda yang biasa-biasa saja (haha). Trend sesaat karena kasus Ibu Prita mungkin. Yah setidaknya orang akan berhati-hati jangan sampai kasus Ibu Prita atau yang serupa dengan itu terulang kembali.
Hmm. Sebenarnya yang ingin saya sampaikan pada tulisan ini adalah kekesalan saya pada komentar-komentar kurang sopan di blog-blog atau situs berita atau apapun yang menyediakan fasilitas pendukung adanya komentar-komentar tersebut. Dan malah biasanya ditulis dengan identitas yang tidak jelas. Seperti lempar batu sembunyi tangan (haha. ingat belajar peribahasa waktu SD). Seberapa jauh sih sebuah komentar pedas atau kasar itu diperbolehkan? Jawabannya mungkin bisa dicari di netiket. Setelah googling juga tentang netiket, sampailah saya pada sebuah slide show dengan judul netiket dan cyberbully Fasilkom UI (izin kutip ya Pak Enda Nasution). Poin yang paling menarik buat saya pada slide ini adalah etika di cyberspace tidak lebih rendah daripada di dunia nyata dan ingat bahwa kita berbicara dengan manusia. Jadi? Yaa.. saya tidak menyalahkan orang-orang yang berkomentar kurang enak, kasar, atau tidak memberi identitasnya, tapi jangan lupa kalau berinternet pun ada etikanya. Jangan karena tidak terlalu kenal dan tidak akan bertemu orang yang dikomentari, atau tidak akan ketahuan siapa yang menulis komentar tersebut kita jadi seenaknya saja. Buat yang dikomentari secara pedas jangan terpancing emosi, jangan memberi kepuasan kepada para bullies kalau kata slide tadi.
Okee. Itu saja hasil rasa penasaran saya hari ini. Kalau saya pernah melakukan ketidaksopan dalam berkomentar atau lainnya, mohon dimaafkan yaa.. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari hal-hal yang terjadi di sekitar kita.
Tips dari saya: kalau mau komentar kasar di dalam hati saja. Hehe.
Terpikir untuk mengganti gaya bahasa saya di blog ini sesuai dengan EYD (walaupun ga se-EYD itu sih). Kita cinta bahasa Indonesia kaan?? Hehe.