Kartini dan Pahlawan Wanita Indonesia
Bukan sekolah itu saja yang mendidik hati sanubari itu, melainkan pergaulan di rumah terutama harus mendidik pula! Sekolah mencerdaskan pikiran namun kehidupan di rumah tangga membentuk watak anak itu. Ibu lah yang menjadi pusat rumah tangga. Berilah anak-anak gadis pendidikan yang sempurna, jagalah supaya ia cakap kelak memikul kewajiban seberat itu. (RA Kartini, dalam surat kepada Tuan dan Nyonya Anton, 04 Oktober 1902)
Hari ini hari Kartini. Sama seperti tahun tahun sebelumnya saya kembali menulis quote ibu Kartini (disini, disini, dan disini). Tahun ini adalah kebetulan sekali saya sedang membaca buku Panggil Aku Kartini Saja, sebuah biografi Kartini yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer, yang sampai sekarang belum selesai dibaca juga, hehe.
Berbicara mengenai hari kartini, banyak orang memperdebatkan kenapa harus Kartini yang diberi hari spesial, sementara banyak pahlawan wanita Indonesia dengan peranan yang lebih besar dari Kartini tidak pernah disebut sama sekali, bahkan oleh buku sejarah sekalipun. Bersamaan dengan perdebatan tentang penokohan Kartini sebagai simbol pahlawan wanita Indonesia, keluarlah nama-nama pahlawan wanita Indonesia lainnya, seperti Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, Rohana Kudus, Malahayati, Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan Berdaulat, Siti Aisyah We Tenriolle, dan lainnya. Kalau boleh jujur, beberapa nama tersebut baru saya dengar ketika mencari quote Kartini diatas tadi ;p. Jadi, kesimpulan saya hari ini, hari Kartini bukan hanya untuk mengenal Kartini saja, tetapi juga pahlawan wanita Indonesia lainnya, yang semoga bisa menjadi inspirasi dan motivasi kita para wanita Indonesia untuk terus berkembang dan bermanfaat bagi keluarga dan juga masyarakat.
Hai Asti….
Sedang nyari inspirasi dari teman lama.
Semangaddh!