Kartini masa kini
Hari ini hari Kartini. Seru banget liat batik-batik berseliweran di kampus tadi.
Kartini. Sangat identik dengan emansipasi wanita. Yang kayaknya kalo sekarang Kartini masih ada, banyak wanita protes tentang emansipasi tadi. Sekarang, kalo para wanita mengeluh gara2 disuruh bawa barang2 berat, atau nyebrang ga disebrangin, pasti kaum pria-pria itu memakai tameng emansipasi wanita. Nyebelin kan. Hehe. Ini becanda kok bu Kartini..
Balik lagi ke emansipasi wanita tadi. Sebagai perempuan, kita (Saya dan para perempuan. Diperjelas, biar yang laki-laki ga pada protes) akan sangat bersyukur hidup di jaman sekarang ini. Terutama masalah pendidikan. Sekarang ga ada lagi pembedaan pendidikan untuk laki-laki dan perempuan. Semua orang, perempuan dan laki-laki, bisa dapetin pendidikan setinggi mungkin sesuai keinginan dan kemampuan mereka. Perjuangan Ibu Kartini untuk mendapatkan haknya dan hak kaumnya berhasil. Tapi, bukan cuma hak yang Kartini perjuangkan. Tapi juga kewajiban. Dibalik hak perempuan untuk ini itu, perempuan juga punya kewajiban yang harus dilakukan.
“Kami disini memohon diusulkan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserukan alam sendiri kedalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.“ (Surat RA Kartini , Kepada Prof. Anton dan Nyonya 4 oktober 1902)
Menjadi ibu. Sedihnya, kartini harus meninggalkan dunia ini di usianya yang masih sangat muda, sebelum sempat merasakan menjadi pendidik manusia yang pertama untuk anak-anaknya. Fakta tentang wafatnya Kartini setelah melahirkan anak pertamanya menjadi gambaran bahwa dari jaman dulu sampai sekarang, permasalahan kematian ibu melahirkan belum juga teratasi. Dari artikel ini disebutkan angka kematian ibu (AKI) Indonesia tertinggi di Asia Tenggara. Dari 5 juta ibu yang melahirkan ada 307 angka kematian ibu per seratus ribu kelahiran hidup. Artinya, setiap 352 ibu bersalin meninggal setiap minggunya atau dengan kata lain, ada dua ibu bersalin meninggal dalam setiap jamnya.
Masih dari quote diatas juga, pendidikan yang diinginkan Kartini adalah pendidikan yang membuat wanita menjadi lebih cakap dalam menjalankan kewajibannya. Sangat disayangkan banyak wanita membaca emansipasi hanya sampai pada keinginan Kartini untuk mendapatkan kesetaraan dengan laki-laki sementara keluarga dan anak-anak mereka ditelantarkan. Dari hasil survey yang dilakukan sebuah LSM di kota Bandung, 50% remaja di kota Bandung telah melakukan hubungan seks di luar nikah. Perilaku ini katanya dipengaruhi oleh tontonan VCD/DVD, internet, dan ponsel, serta akibat perceraian/pertengkaran orang tua.
Dear teman-teman perempuan, ada tanggung jawab besar pada kita untuk melanjutkan perjuangan Kartini. Yang sebesar-besarnya berguna bagi wanita Indonesia pada banyak hal termasuk contoh-contoh diatas tadi. Sekecil-kecilnya adalah pada keluarga, kalo katanya Ibu Kartini, cakap sebagai istri dan ibu, serta menjadi pendidik yang pertama dan teladan bagi anak-anak kita.
Hari ini saya sok tau kembali. Maaaaaf yaa. Hehehee. Buat motivasi diri sendiri di tengah kejenuhan. Ngomong-ngomong ini tulisan tentang Kartini yang kedua setelah dua taun yang lalu saya post quote Kartini diatas disini.
Lacak Balik